Petani Udik: padi

Recent Posts

ads

Hot

Post Top Ad

Your Ad Spot
Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2018

Budidaya Padi Sistem Tabela Peran dan Manfaat Herbisida pada Budidaya Padi Sistem Tabela

23.45 1
Hasil gambar untuk sawah tabela


Peran dan Manfaat Herbisida
pada Budidaya Padi Sistem Tabela

Tanam padi sistem tabela memang memberikan beberapa keunggulan atau kelebihan dari cara tanam konvensional karena lebih efisien, namun disisi lain ternyata kurang cocok bila dilakukan saat musim penghujan. Bahkan disinyalir turut menumbuhkan biji gulma untuk tumbuh lebih awal sehingga mendorong gulma tumbuh cepat. Maka pemilihan herbisida yang selektif dan efektif mutlak dibutuhkan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma tersebut.

Tanaman padi (Oriza sativa) adalah salah satu jenis serealia yang umumnya dibudidayakan melalui sistem persemaian terlebih dahulu. Baru setelah bibit tumbuh sampai berumur + 3 minggu dilakukan pemindahan tanaman bibit ke lapangan yang telah dipersiapkan sebelumnya yang dikenal dengan istilah transplanting. Cara ini merupakan suatu cara yang umum digunakan oleh petani padi di seluruh Indonesia.
Namun, ada beberapa kelemahan yang dimiliki dari sistem transplanting tersebut, diantaranya : (a) pada saat bibit dicabut dari tempat persemaian maka bibit akan mengalami kerusakan pada sistem perakarannya.
Monochoria vaginalis, gulma berdaun lebar yang sering mengganggu pertanaman padi

Keadaan ini akan mempengaruhi proses adaptasi tanaman, dimana bibit padi tersebut akan berhenti mengabsorbsi air, sedangkan di lain pihak proses transpirasinya tetap berlangsung. Bila keadaan ini berlangsung dalam interval waktu yang agak panjang maka bibit akan mengalami kekurangan air, terjadi penurunan tekanan turgor dari guard cell (sel penjaga), stomata tertutup, difusi CO2 tertekan dan pada akhirnya terhentinya proses fotosintesis. (b) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian akan terjadi pelukaan pada sistem perakarannya, hal ini mempengaruhi daya tahan tanaman dimana luka yang ada akan menyebabkan bibit penyakit dapat masuk ke dalam tanaman. (c) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian dan dipindahkan ke sawah, akan terjadi proses stagnasi dimana pertumbuhan bibit tanaman akan terhenti sementara sampai dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, (d) sistem budidaya melalui persemaian lebih cocok untuk musim penghujan karena proses transpirasi (penguapan) dapat ditekan lajunya sehingga bibit padi dapat terhindar dari proses kelayuan dan terakhir (e) sistem budidaya melalui persemaian akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dimana untuk luasan satu hektar akan membutuhkan kurang lebih 10 orang tenaga kerja transplanting dan membutuhkan waktu + 8 jam dengan besar biaya + Rp. 250.000,- (standart di Kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan).

Untuk mengatasi keadaan ini perlu dilakukan alternatif teknik budidaya lain misalnya tekhnologi budidaya tanaman padi dengan menggunakan sistem tabela atau tabur benih langsung. Pada sistem tabela ini, sebelum benih ditabur ke lapangan terlebih dahulu di kecambahkan di dalam karung yang basah selama 2 hari sampai calon akarnya kelihatan, kemudian barulah dimasukkan langsung ke dalam lubang-lubang yang dibuat terlebih dahulu menggunakan kayu sederhana (tugal) yang berfungsi sebagai alat pembuat lubang dan sekaligus untuk mengatur jarak tanam. Sebelumnya lahan perlu diairi sampak agak basah tetapi tidak sampai menggenang atau becek sehingga mempermudah pembuatan lubang-lubang tanam. Benih hasil peraman yang telah kelihatan calon akarnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan telunjuk jari tengah dan ibu jari + 20 – 25 benih ke dalam satu lubang. Perlakuan ini dengan estimasi bahwa satu rumpun padi yang optimal terdiri dari 20 – 25 anakan. Jarak tanam yang baik adalah + 25 x 25 cm dengan kebutuhan benih + 60 kg/ha.
Benih padi yang sudah muncul titik tumbuhnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan jari telunjuk

Di Sulawesi Selatan, sistem tabela ini sudah mulai memasyarakat dan banyak digunakan oleh petani padi sawah terutama di Kabupaten Sindrap, Pinrang dan Bone. Adapun beberapa keuntungan budidaya padi dengan sistem tabela diantaranya : (a) sistem tabela memastikan jarak tanam lebih tepat dan teratur sehingga produksi yang diperoleh petani lebih banyak 500 – 1000 kg gabah kering per hektar bila dibandingkan dengan sistem persemaian. Konsekuensi yang diperoleh dari jarak tanam yang teratur akan mengurangi kompetisi untuk mendapatkan faktor-faktor produksi antar tanaman. Yang terpenting adalah bahwa jarak tanam yang tepat dan teratur akan menyebabkan Leaf Area Indeks (LAI) yang optimum karena semua lapisan daun sempurna sehingga proses fotosintesis tanaman dapat berlangsung secara optimal. Keadaan inilah yang dapat menunjang kenaikan produksi lebih tinggi pada sistem budidaya padi dengan menabur benih langsung tanpa melewati proses persemaian. (b) sistem tabela menyebabkan tanaman terhindar dari proses transpirasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan kelayuan saat kekurangan air , (c) tanaman terhindar dari stagnasi (d) tanaman terhindar dari proses penggabungan akar yang biasa terjadi saat transplanting sehingga banyak akar yang rusak dan putus dan (e) Dengan sistem tabela kebutuhan tenaga kerja penanam untuk luasan 1 hektar adalah lima orang tenaga kerja dengan waktu + 4 jam sehingga besar biaya akan jauh lebih murah ( + Rp. 125.000) jika dibandingkan dengan budidaya sistem persemaian. Dengan sistem tabela dapat menghasilkan 6 – 6,5 ton gabah, sedangkan melalui sistem persemaian konvensional menghasilkan 5 – 5,5 ton gabah.

Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya (a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur, (b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Dari beberapa jenis gulma yang tumbuh ternyata ada dua jenis gulma yang sering menyulitkan para petani padi, yaitu :
1. Echinocloa crussgalli
Gulma ini seringkali dijumpai pada tanaman padi. Biasanya disetiap daerah memiliki nama yang berlainan. Orang Sunda menyebutnya sebagai rumput jajagoan, sedangkan istilah Orang Sulawesi seringkali disebut sari beteng.
Jajagoan, salah satu gulma
yang sering mengganggu pertanaman padi

Jenis gulma ini adalah gulma berdaun sempit dan sulit dibedakan dari tanaman utama yaitu padi karena memiliki penampakkan yang hampir sama. Selain memiliki ciri yang sama, jajagoan ini juga biasanya tumbuh menjadi satu dengan anakan padi dalam satu rumpun. Perbedaan mencolok dari gulma ini dapat dilihat pada saat tanaman jajagoan mengalami pembungaan. Pada saat pembungaan inilah biasanya kompetisi dalam memperebutkan unsur hara yang ada dalam tanah berlangsung sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi padi berkisar antara 15 – 20 %. Karena sifatnya yang mirip dan menyatu dengan rumpun padi itulah pengendalian gulma harus diupayakan sedini mungkin dan memilih herbisida yang selektif, efektif dan bersifat pra tumbuh.
2. Monochoria vaginalis
Berbeda dengan jenis jajagoan, gulma ini merupakan jenis tanaman yang berdaun lebar. Orang seringkali menyebutnya dengan eceng gondok. Jenis gulma ini biasanya berkembang biak sangat cepat terutama bila hujan deras. Keadaan ini menyebabkan petani semakin mengalami kesulitan.

Pengendalian
Keberadaan gulma yang sangat mengganggu produktivitas tersebut kini selain dapat dikendalikan secara mekanis, juga dapat dilakukan secara kimia. Penggunaan herbisida merupakan langkah pengendalian gulma secara kimia namun relatif aman baik bagi pengguna maupun bagi tanaman utama itu sendiri. Dengan banyaknya jenis herbisida yang beredar di pasaran tentulah hal ini cukup membingungkan karena masing-masing merk menawarkan berbagai keunggulannya. Namun demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya pemilihan herbisida ini hendaknya sangat hati-hati dan selektif. Efektivitas suatu herbisida tergantung pada jenis gulma dan bahan aktif yang dikandung herbisida tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis herbisida mampu memberantas semua jenis gulma karena pada bahan aktif tertentu hanya efektif/manjur pada karakteristik gulma tertentu saja. Tidak terlepas dari bagaimana sifat/karakteristik suatu bahan aktif dalam efektivitasnya membasmi gulma, maka di beberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti di Kab. Sindrap, Pinrang dan Bone khususnya pada budidaya padi yang menggunakan sistem tabela, telah mengadakan beberapa percobaan baik yang dilakukan sendiri oleh petani maupun bersama-sama. Hasilnya memuaskan dimana dari beberapa herbisida yang dicoba, ternyata hanya ada dua jenis yang paling unggul dan terbukti efektif dalam membasmi gulma jenis jajagoan maupun eceng gondok. Herbisida yang dimaksud adalah Billy 20WP dan Queen 25WP yang didistribusikan oleh PT. Tanindo Subur Prima-Surabaya dengan merk dagang Cap Kapal Terbang. Keunggulan dari dua jenis herbisida ini ternyata dari sifatnya selektiif pada padi dimana bahan aktif yang dimiliki baik oleh Billy 20WP maupun Queen 25WP tersebut efektif dalam membasmi gulma namun tidak mematikan tanaman padi.
Herbisida Billy 20WP merupakan herbisida sistemik yang berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20 %. Herbisida ini dapat digunakan pada saat pra tumbuh sampai awal purna tumbuh, disamping selektif juga mampu mengendalikan gulma berdaun sempit maupun berdaun lebar. Billy 20WP ini berbentuk tepung yang berwarna abu-abu. Sifat selektivitas yang dimilikinya ini bila ditinjau secara biokimia erat kaitannya dengan keberadaan bahan aktif etil pirazosulfuron dimana senyawa yang dihasilkannya akan memutus cabang asam amino pada tanaman gulma yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian, namun tidak berpengaruh pada tanaman padi. Hal ini disebabkan bila kontak dengan tanaman padi maka senyawa tersebut akan membentuk senyawa hidroksil yang tidak beracun sehingga tetap aman bagi padi. Berdasarkan pengalaman para petani yang ada, maka agar didapatkan hasil yang optimal penggunaan dosis untuk memberantas gulma jajagoan adalah sekitar 5 gram/2 tangki air (28 liter) per hektar. Sedangkan untuk memberantas gulma eceng gondok dapat digunakan dosis 5 gram/1 tangki air (14 liter) per hektar.
Herbisida Queen 25WP tidak berbeda jauh dengan “kerabat”-nya yaitu Billy 20WP. Baik dilihat dari segi manfaat maupun keunggulan yang dimiliki baik Billy 20WP maupun Queen 25WP hampir sama. Hanya saja herbisida Queen 25WP ini mengandung bahan aktif Kuinklorak sebesar 25 %. Queen 25WP ini merupakan herbisida sistemik yang dapat digunakan pada pra tumbuh dan awal purna tumbuh berbentuk tepung dan berwarna krem yang dapat disuspensikan. Herbisida Queen ini lebih cocok digunakan pada gulma berdaun sempit seperti jajagoan. Dosis yang dapat digunakan untuk memberantas gulma ini adalah + 50 gram/2 tangki air untuk luasan satu hektar tanaman padi.
Dari hasil percobaan dan pengalaman petani setempat, ternyata bila kita menggunakan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4-D pada budidaya padi dengan sistem tabela ini akan menyebabkan keracunan pada tanaman padi yang dicirikan dengan daun berwarna kemerahan dan akhirnya berwarna coklat kehitaman seperti terbakar. Untuk itu maka penggunaan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4 –D ini baru dapat digunakan pada saat tanaman padi berumur + 18 hari.
Berdasarkan uraian di atas maka pengambilan keputusan untuk pengendalian gulma secara kimia harus dibuat sebijak mungkin dan hati-hati dengan mempertimbangkan efektivitas dan biayanya. Sehingga pemilihan herbisida yang benar-benar tepat yaitu efektif dan selektif juga aman bagi tanaman padi mutlak dipertimbangkan. Dengan keunggulan yang dimiliki , maka baik Billy 20WP maupun Queen 25 WP merupakan alternatif herbisida yang tepat dan efektif dalam mengendalikan sekaligus mencegah adanya tanaman gulma. Penggunaan herbisida pada sistem tabela dapat memberantas gulma sedini mungkin tanpa merusak tanaman padi itu sendiri. Sehingga hal itu tidak dapat memberikan kesempatan kepada gulma untuk berkompetisi dengan tanaman padi dalam mendapatkan unsur hara, air, cahaya, maupun CO2 untuk perkembangan dan pertumbuhannya.
Read More

Sistem Tanam Padi Penyemaian langsung

08.21 1
Benih tanaman langsung membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dan cenderung matang lebih cepat daripada tanaman yang ditransplantasikan.

Dalam metode ini, tanaman tidak mengalami tekanan seperti ditarik dari tanah dan membangun kembali akar kecil yang baik. Namun, mereka memiliki lebih banyak kompetisi dari gulma.

Tergantung pada metode persiapan lahan yang digunakan, penyemaian langsung dapat dilakukan dengan dua cara:

Pembibitan langsung basah

Pada lahan basah, penyemaian langsung dapat dilakukan baik melalui penyiaran atau pengeboran benih ke lumpur dengan drum seeder.

Penebaran
Penebaran t 80−100 kg per ha benih pra-germinated hingga yang baru-baru ini dikeringkan, tempat benih yang sudah dikeringkan dengan baik atau ke dalam air dangkal.

Jika air di ladang berlumpur, biarkan 1-2 hari sampai mengering sebelum disiarkan.

Jika air dikeringkan dari ladang setelah penyiaran, benih diperkenalkan kembali 10−15 hari setelah penyemaian pertama.

Pembibitan Drum 
Penabur drum digunakan untuk penanaman cepat. Ini beroperasi terbaik pada persemaian yang diratakan dengan baik, halus, dan basah. Namun, pembenih dapat tersumbat jika tanahnya lengket atau jika mesinnya dirancang dengan buruk.

Siapkan 80 kg benih pra-kecambah per ha.


planting-directseeding-drumseeder





Read More

Jumat, 30 Maret 2018

Tanam Padi Dalam Pot

10.18 0

Padi pot siap panen.

Komando Distrik Militer (Kodim) 0610 Sumedang, Provinsi Jawa Barat, memanen padi pada November 2015. Namun, mereka tidak perlu masuk sawah untuk memanen malai Oryza sativa. Mereka cukup menuai padi di pot berupa wadah bekas cat. Menurut Perwira Seksi Teritorial Kodim (Pasiter) Kodim 0610 Sumedang, Lilo Witjaksono, setiap pot terdiri atas satu bibit varietas mapan P-05.
Padi yang ditanam pada Juli 2015 itu siap panen setelah berumur 125 hari. Kodim menuai 13 ons per pot. Penanaman padi perdana di Kodim 0610 Sumedang itu sangat memuaskan. Mereka menanam dengan metode system of rice intensification (SRI). “Kami tanam padi berumur 10 hari setelah semai, tanam tunggal, dan dangkal,” ujar Lilo. Dalam satu pot mampu menghasilkan 115—150 anakan. Padahal, biasanya varietas itu hanya menghasilkan 80—90 anakan.
Panen
Menurut Komandan Kodim 0610 Sumedang, Sri Wellyanto, semua anakan padi tumbuh dan produktif menghasilkan bulir padi. Setiap malai menghasilkan 450—500 bulir padi. Selain produksi yang tidak kalah dengan padi sawah, padi dalam pot juga minim perawatan. Pengendalilan hama dan penyakit cenderung lebih sedikit karena populasi tanaman yang tidak sebanyak lahan di sawah. “Tidak ada hama mengerat seperti tikus,” ujar Lilo.
Namun, hama lain seperti belalang dan wereng cokelat tetap ada dengan populasi sedikit dan dapat dikendalikan dengan pestisida organik. Mereka membuat pestisida organik dari bahan rempah-rempah yang mengeluarkan aroma dan sifatnya pedas. Ramuan itu berbahan rimpang jahe, kencur, lengkuas, dan daun belimbing wuluh. Mereka memfermentasi selama semalam dan menyemprotkan campuran ramuan itu.
Frekuensi pemberian pestisida organik minimal 2 pekan sekali. Paling efektif penyemprotan pada malam hari karena hama cenderung banyak pada malam hari. Pemberian pestisida organik itu bersifat menggusur hama tanpa membunuh. Tanaman yang terkena juga tidak terpapar racun seperti jika disemprot dengan pestisida kimia. “Jadi aman untuk disemprotkan meski dosis banyak,” ujar Lilo.

Mereka juga tidak menggunakan pupuk kimia untuk tanaman padinya. Pupuk yang dibarikan adalah daun kaliandra, jerami, dan pupuk kandang campuran sapi dan kambing dengan dosis 1:1:1. Selain itu mereka juga menambahkan bakteri corine. Penanaman padi dengan media organik dan memanfaatkan wadah bekas itu merupakan kegiatan Kodim 0610 untuk mendukung swasembada pangan.
Dalam penanaman perdana itu Kodim 0610 menanam dalam skala penelitan dengan biaya yang murah dan sederhana. Kini mereka meneruskan menanam padi di pot untuk contoh nyata budidaya padi di pot. Menurut Lilo kini penanaman padi kedua sudah dipanen pada 24 Juni 2016. Menanam padi dalam pot juga tidak memerlukan lahan yang luas. Kodim 0610 Sumedang meletakkan padi potnya dengan jarak 50 cm.
“Cukup jejerkan pot di depan perkantoran atau rumah. Selain menghasilkan, tanaman padi juga bisa berfungsi sebagai tanaman hias sebelum dipanen,” ujarnya. Inovasi penanaman padi dengan wadah ember bekas itu akan disosialisasikan ke petani di Sumedang. Untuk itu Kodim Sumedang bekerja sama dengan Dinas Pertanian agar penyebaran informasi ke petani lebih cepat.
Sasaran utama penerima informasi itu adalah generasi muda. Mereka berharap generasi muda ikut menanam padi dengan skala kecil di pot. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan adalah memamerkan padi organik yang di tanam di wadah bekas dalam pameran pembangunan. Selain itu Kodim 0610 Sumedang juga memerintahkan Komando Rayon Militer (Koramil) dan jajarannya untuk menanam padi dalam pot.
Penanaman padi pot itu diharapkan dapat menjadi contoh di wilayah masing-masing Koramil. Dengan demikian petani yang tidak memiliki lahan pribadi dapat ikut mencoba dan yang memiliki sawah menggarap sawahnya dengan cara organik. Masyarakat dapat meniru sistem budidaya itu karena murah, hemat lahan, praktis, dan cara mudidaya juga relatif mudah (baca ilustrasi: “Padi Pot Praktis”)
Skala riset

Kepala Seksi Tanaman Buah Dinas Pertanian Kalimantan Barat, Ir Anton Kamarudin MS, juga menanam padi di dalam pot sejak 2012. Ia dan rekannya menanam padi di dalam pot untuk keperluan riset. Ia menanam padi dengan benih berumur 30 hari. Mereka menaman 20—30 bibit per lubang tanam. Metode tanam itu kini terkenal dengan nama hazton. Kini Anton dan rekannya masih menanam pot untuk keperluan riset lainnya.

Mereka menanam padi di pot berdiameter 30 cm dengan tinggi 30 cm. Anton mengisi tanah hingga ketinggian 20 cm dan air hingga permukaan pot. Media tanam yang digunakan dalam riset itu bermacam-macam yaitu pasir 100%, lumpur 100%, dan campuran keduanya dengan perbandingan 50:50. Menurut Anton campuran kedua media itu yang paling ideal untuk media tanam padi di dalam pot.
Menurut dosen Agronomi, Universitas Sebelas Maret (UNS), Edi Purwanto, di beberapa perguruan tinggi, menenam padi di dalam wadah untuk penelitian sudah wajar dilakukan. “Di UNS beberapa mahasiswa menggunakan ember besar untuk menanam padi dalam skala penelitian,” ujar Edi. Pertumbuhan padi di dalam pot memang tidak jauh berbeda dengan di lahan sawah. Namun, perlu memperhatikan varietas yang cocok.
Menurut Anton umur tanaman dan tinggi tanaman padi perlu diperhatikan dalam memilih varietas. “Padi ciherang yang memiliki umur 116—126 hari cocok untuk di tanam di pot,” ujarnya. Selain itu varietas IPB-35 juga dapat ditanam di dalam pot karena tanaman tidak terlalu tinggi. Pemilihan padi dengan ciri daun bendera yang ke atas juga dapat digunakan. Pasalnya menurut Anton daun bendera itu dapat mengelabui hama burung pemakan bulir padi.
Menurut Edi ke depannya menanam padi di pot menarik untuk di kembangkan. Namun, sampai sekarang, pengembangangan padi di pot belum sampai tahap komersial melainkan untuk skala rumah tangga. Setiap rumah dapat menanam padi di lahan yang terbatas menggunakan pot. Selain di perkotaan, daerah pantai dengan kurangnya sumber air tawar menanam padi di pot jadi solusi. (Ian Purnama Sari)
Read More

MENANAM PADI DALAM POLYBAG

10.13 6


Setiap tahun kita kehilangan ribuan hektar lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi sarana perumahan, pertokoan, dan lain-lain. Hal ini tentu sedikit besarnya akan berpengaruh terhadap menurunnya hasil produksi pertanian terutama makanan pokok seperti padi/beras. 

Menanam padi dengan media polybag atau ember plastik yang akan saya paparkan nanti walaupun tidak menjadi solusi bagi penambahan lahan pertanian dan peningkatan hasil pertanian tapi diharapkan menjadi salah satu alternatif kalau terus diperdalam dan dikembangkan.
Bagi yang tinggal di pedesaan bertanam padi seperti ini akan jadi tidak efektif, namun bagi yang tinggal di perkotaan Bertanam padi menggunakan polybag mungkin akan jadi sebuah solusi yang bagus untuk mengatasi ketiadaan tempat, selain itu bertanam padi dengan cara seperti ini bagus juga sebagai sarana untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang, bahkan anda akan merasakan sensasi dan kebanggan yang luar biasa ketika padi yang anda tanam dengan tangan anda sendiri tumbuh subur, buah menguning dan berisi.
Untuk lebih jelasnya inilah tahapan penanaman padi polybag:

Bahan yang dibutuhkan:
  • -   Tanah
  • -   Polybag/ember plastik dengan diameter 30-40 cm
  • -   Pupuk organik/kompos
  • -   Benih padi
H-6 Penyemaian Benih
  1. Masukkan benih kedalam air, benih yang mengapung/ mengambang dibuang, yang tenggelam biarkan rendam 24 jam.
  2. Benih diperam/bungkus daun/kain/kertas koran 24 jam.
  3. Buatlan persemaian: 1 bagian tanah kering subur halus : 1 bagian Pupuk Organik Padat, aduk merata, diayak. Wadah persemaian dilapisi plastik. Tinggi lahan semai 5-7cm. Semaikan benih. Tutup benih dengan media semai tadi, tipis saja sekira 1-2mm.
  4. Pertahankan kelembaban benih dengan cara menyemprotnya dengan air biasa, tiap 4-6 jam. Simpan di tempat yang tidak terkena matahari langsung/teduh.

H-1 menyiapkan Media Tanam
Buatlah media tanam: 60% tanah : 40% Pupuk Organik/kompos. Aduk rata. Masukkan ke dalam ember atau polybag tidak  berlubang minimal 20ltr, volume 30ltr lebih baik.  Media tanam agak “dibukitkan” untuk menanam benih ditengahnya, dan pengairan di pinggirannya.

Hari H Penanaman

  1. Tanamkan benih pada usia 5-7 hari.
  2. Tarik pangkal benih menggunakan tangan kanan, jaga agar butir padi (gabah) yang masih menempel tidak rusak (butir padi berfungsi sebagai ari-ari nutrisi akar & daun benih muda).
  3. Dorong pangkal benih secara horizontal dari pinggir hingga pangkal benih terbenam 1cm dengan butir padi menancap ke dalam tanah secara horizontal (pinggir), biarkan akar tergerai di permukaan tanah (jangan ditekan).
  4. Hanya 1 batang benih, daun tidak dipotong.
  5. Simpan di tempat terbuka-matahari penuh.

Pengairan/Penyiraman Sehari-hari
Umur Padi
Pengairan
0 – Berbunga merata
Macak-macak
Berbunga merata            – Padi Menguning
Rendam 2-3cm
Padi menguning – Panen
Keringkan


Panen
  1. Lakukan panen seperti pada umumnya.
  2. Jerami dapat digunakan untuk bahan baku Pupuk Organik Padat .
  3. Tanah/ media tanam dapat digunakan untuk musim tanam berikutnya. Caranya: airi media tanam hingga lembek, kemudian balikkan/telungkupkan sisa bonggol padi – Campur dan adukkan Pupuk Organik Padat – biarkan 1 minggu – tanami kembali benih dari persemaian seperti diatas.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa setiap tahunnya kita kehilangan ribuan hektar lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi sarana perumahan, pertokoan, dan lain-lain. Hal ini tentu sedikit besarnya akan berpengaruh terhadap menurunnya hasil produksi pertanian terutama makanan pokok seperti padi/beras. 
Menanam padi dengan media polybag atau ember plastik yang akan saya paparkan nanti walaupun tidak menjadi solusi bagi penambahan lahan pertanian dan peningkatan hasil pertanian tapi diharapkan menjadi salah satu alternatif kalau terus diperdalam dan dikembangkan.Bagi yang tinggal di pedesaan bertanam padi seperti ini akan jadi tidak efektif, namun bagi yang tinggal di perkotaan Bertanam padi menggunakan polybag mungkin akan jadi sebuah solusi yang bagus untuk mengatasi ketiadaan tempat, selain itu bertanam padi dengan cara seperti ini bagus juga sebagai sarana untuk menyalurkan hobi dan mengisi waktu luang, bahkan anda akan merasakan sensasi dan kebanggan yang luar biasa ketika padi yang anda tanam dengan tangan anda sendiri tumbuh subur, buah menguning dan berisi.Untuk lebih jelasnya inilah tahapan penanaman padi polybag:Bahan yang dibutuhkan:-   Tanah-   Polybag/ember plastik dengan diameter 30-40 cm-   Pupuk organik/kompos-   Benih padi





Read More

Pemupukan Organik Pada Tanaman Padi

09.54 0


Rakitan teknologi revolusi hijau tahun 1980-an yang diperkenalkan kepada petani menyebabkan petani sangat tergantung pada pupuk dan pestisida anorganik dalam kegiatan budidaya padi. Ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida anorganik dengan dosis yang berlebihan dalam budidaya padi tersebut ternyata menurunkan kandungan bahan organik tanah, mencemari lingkungan, dan menyebabkan tidak terkendalinya hama penyakit sebagai akibat ekosistem yang tidak stabil. Dampak negatif revolusi hijau menginspirasi para petani, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain untuk berpaling pada pengembangan sistem pertanian organik.

Sistem pertanian organik
Pada prinsipnya sistem pertanian organik merupakan sebuah sistem usahatani yang menganut prinsip-prinsip alam dalam membangun keseimbangan agroskosistem, agar bermanfaat bagi tanah, air, udara, tanaman dan seluruh mahluk hidup yang ada (termasuk organisme penganggu), serta mampu menyediakan bahan pangan yang sehat bagi kebutuhan manusia. Adapun pertanian organik memiliki dua makna, yaitu sebagai berikut:
Pertanian organik dalam arti sempit berarti pertanian yang bebas dari bahan-bahan kimia. Dalam pertanian organik, perlakuan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama penyakit, sampai pasca panen tidak sedikitpun melibatkan zat kimia, tetapi menggunakan bahan hayati (alami). Adapun pertanian organik dalam arti luas merupakan sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis, baik berupa pupuk kimia, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh, maupun aditif pakan. Konsep awal pertanian organik yang ideal yaitu menggunakan seluruh input yang berasal dari dalam pertanian itu sendiri. Dengan demikian penggunaan input dari luar sangat dibatasi atau dijaga hanya minimal sekali.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan sistem pertanian organik, antara lain, yaitu 1) kesuburan tanah yang ada harus dipertahankan dan diperbaiki melalui penerapan teknologi budidaya yang tepat; 2) penggunaan input dari luar yang bersifat sintetis harus dikurangi; 3) keanekaragaman agroekosistem harus dibangun melalui pola tanam, pengendalian hama penyakit tanaman secara terpadu, serta penggunaan pupuk hayati; 4) efisiensi dalam proses produksi harus ditingkatkan agar keuntungan yang diperoleh petani pun meningkat; dan 5) pemberdayaan petani perlu dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri petani atas keberhasilan usahataninya.
Bahan organik
Bahan organik merupakan bahan yang berasal dari limbah dan sisa (residu) tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus). Bahan organik ini merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Bahan organik dalam tanah berfungsi (1) memperbaiki sifat fisik tanah (struktur tanah lebih remah sehingga memudahkan perkembangan akar tanaman serta meningkatkan kapasitas menahan air dan hara); (2) memperbaiki sifat kimia dan fisik-kimia tanah (sebagai sumber hara N, meningkatkan KTK-tanah atau daya menahan dan melepas hara); dan (3) memperbaiki mikrobiologi tanah (karbon dari bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroba penambat nitrogen, mikroba perombak ikatan karbon, serta pelepas hara N dan P). Kandungan bahan organik yang tinggi akan memudahkan pengolahan lahan, karena struktur tanah menjadi lebih remah, pertumbuhan mikro organisme lebih baik, dan pertumbuhan akar lebih optimal.
Sumber bahan organik yang pada umumnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, yaitu sebagai berikut:
1. Limbah dan sisa (residu) tanaman, antara lain jerami dan sekam padi; gulma; daun, batang dan tongkol jagung; semua bagian vegetatif tanaman; batang pisang, sabut kelapa;
2. Limbah dan sisa (residu) ternak, antara lain kotoran padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, tepung tulang, cairan biogas;
3. Pupuk hijau, antara lain Gliriside, Terrano, Mukuna, turi, lamtoro, Centrosema, Albisia;
4. Tanaman air, antara lain Azollla, ganggang biru, rumput laut, enceng gondok, gulma air lainnya;
5. Penambat nitrogen, antara lain mikroorganisme, Mikoriza, Rhizobium, biogas;
6. Limbah industri padat, antara lain serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, kelapa sawit, limbah pengalengan makanan, limbah
7. Limbah pemotongan hewan;
8. Limbah industri cair, antara lain alkohol, kertas, bumbu masak (MSG), kelapa sawit (POME);
9. Limbah rumah tangga, antara lain tinja, urine, limbah dapur, limbah kota dan pemukiman.
Pemupukan pada padi sawah
Untuk menunjang kelangsungan dan peningkatan produksi serta mutu padi, tanaman padi membutuhkan kecukupan hara yang dapat dipenuhi melalui pemupukan. Pemupukan merupakan kegiatan untuk menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Pemupukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara guna menunjang serta meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman dengan pemberian bahan-bahan organik berupa pupuk kandang, pupuk kompos, cairan nutrisi dan pupuk anorganik yang berupa pupuk buatan. Melalui pemupukan pada lahan sawah, berarti kita melakukan tindakan untuk memperbaiki kesuburan lahan sawah.
Tanaman padi membutuhkan unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro antara lain Nitrogen (N), Fosfor (P) dan Kalium (K) dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif besar dibandingkan unsur hara mikro, seperti Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S). Unsur hara mikro seperti Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Boron (Br), Molibdenum (Mo) dan Klorida (Cl) digunakan dalam jumlah yang sangat sedikit, namun keberadaannya tidak dapat diabaikan karena berpengaruh langsung terhadap aktivitas metabolisme dalam tubuh tanaman.
Adapun hara yang sangat dibutuhkan tanaman dan pada umumnya kurang tersedia di dalam tanah adalah hara N, diikuti oleh P dan K. Dengan pemberian pupuk N dan P yang berimbang diharapkan akan diperoleh pertumbuhan padi yang baik dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Sementara itu, makin tinggi kandungan K, respon pupuk Nitrogen akan makin nyata.
Komposisi pemberian pupuk organik dan anorganik
Pemupukan sebaiknya dilakukan berdasarkan status kandungan hara yang berada dalam jaringan tanaman dan tanah. Untuk itu, agar dapat melakukan pemupukan sesuai dengan kebutuhan, perlu terlebih dahulu dikenali gejala defisiensi maupun kelebihan hara. Pemberian pupuk berbeda antarlokasi, musim tanam, pola tanam dan pengelolaan tanaman. Penggunaan pupuk spesifik lokasi meningkatkan hasil dan menghemat pupuk. Selain itu, pemupukan harus dilakukan tepat waktu, artinya dengan memperhatikan fase pertumbuhan tanaman dan faktor iklim. Selanjutnya penempatan pupuk juga harus tepat dengan memperhatikan karakteristik pupuk dan kedalaman daerah perakaran tanaman.
Standar pemupukan
Adapun standar pemupukan, yaitu sebagai berikut:
1. Menganalisis status hara dengan menggunakan Perangkat Uji tanah Kering (PUTK);
2. Memberikan jenis dan dosis pupuk sesuai dengan hasil analisis tanah;
3. Menentukan frekuensi dan interval aplikasi pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman;
4. Memberikan hara yang dibutuhkan berdasarkan selisih antara rekomendasi kebutuhan pemupukan dengan status hara dalam tanah.
Kebutuhan N tanaman dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi dengan Bagan Warna Daun (BWD), sedangkan kebutuhan tanaman akan P dan K diketahui dengan menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Selain itu, kebutuhan tanaman akan hara juga dapat diketahui melalui uji petak omisi atau melakukan pengujian langsung di lahan sawah petani dengan petak perlakuan NPK (lengkap), NP (minus K), NK (minus P) dan PK (minus N). Di lokasi tertentu, perlakuan serupa dapat dilakukan untuk menentukan apakah tanaman memerlukan hara lain, seperti S, Mg dan Zn. Petak omisi ini dapat memberikan informasi tentang keperluan tanaman akan pupuk N, P dan K di lokasi setempat. Dengan menggunakan BWD dapat ditentukan aapakah tanaman sudah perlu segera diberi pupuk N.
(Penulis: Ir. Diana Prasastyawati, M.Si, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, alamat e-mail: dianapras@gmail.com)
Sumber informasi:
1. Hairiah, Kurniatun. 2002. Pertanian Organik: Suatu Harapan atau Tantangan. Prosiding Lokakarya Nasional Pertanian Organik. Malang: Universitas Brawijaya
2. Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius
3. Sutanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik: Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kanisius
4. Las, I, K.Subagyono dan AP.Setiyanto. 2006. Isu dan Pengelolaan Lingkungan dalam Revitalisasi Pertanian. Jurnal Litbang Pertanian, 25(3):106 – 114. Jakarta: Badan Litbang Pertanian
5. Anonim. 2011. Defisiensi Unsur Hara Jeruk. Jakarta: Direktorat Budidayavdan Pascapanen Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian
Read More

Cara Tepat Pemupukan Tanaman Padi

09.51 0
Hasil gambar untuk PEMBERIAN PUPUK PADI


Untuk memahami pemupukan bagi tanaman padi, kita harus mengetahui umur tanaman padi terlebih dahulu. Sekarang ini banyak varietas padi yang dilepas pemerintah berumur genjah.
Contoh, Inpari 10 berumur 108-116 hari dan Inpari 13 berumur 103 hari.
Tetapi untuk padi ciherang dan IR 64 umumnya berumur 115 -125 hari.
Fase Tumbuh Padi
Dengan melihat 2 kondisi ini saja, kita akan kesulitan untuk menentukan kapan waktu pemupukan yang tepat bagi keduanya.
Untuk menentukan kapan tanaman padi dipupuk dilihat dari fase-fase tumbuhnya tanaman padi. contoh padi ciherang yang berumur 115 – 125 hari.
Fase-fase ini adalah sbb :
– persemaian 20 hari
– fase vegetatif 35 hst
– fase generatif reproduktif 36-65 hst
– fase generatif pematangan 66-100 hst

Pupuk Dasar
Sewaktu bibit pindah tanam, bibit perlu waktu sekitar 8-12 hst atau rata-rata 10 hst untuk dapat memperkokoh perakaran. Saat inilah, sebaiknya pemupukan pertama dilakukan. Sebab pada saat itu daun dan akar tanaman padi sudah mulai berkembang. dengan demikian akan maksimal menyerap unsur hara. Jangan diberikan pada waktu 0-5 hst, sebab daun dan akar tanaman padi belum berkembang dan masih dalam kondisi stres. Dalam kondisi ini akar belum siap menerima pupuk. Bila kita berikan akan sia-sia, apa lagi kita berikan pupuk urea dalam jumlah yang tinggi. Sebab pupuk urea mudah menguap dan bersifat higroskopis. Pada waktu pemberian sebaiknya pada saat kondisi air lagi macak-macak.
Pupuk Susulan Ke-1 .
Diberikan sekitar pekan ke 3 (sekitar 21-25 hst ) ditandai setelah para petani melakukan pengoyosan, saat inilah pemupukan dilakukan. Sewaktu pengoyosan dilakukan maka akar tanaman padi akan putus. Dengan putusnya akar, tanaman akan membentuk anakan baru. Pada kondisi ini seperti ini, tanaman dapat maksimal penyerap unsur hara yang diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan jumlah anakan yang maksimal ke depannya.

Pupuk Susulan Ke-2.
Diberikan sekitar umur tanaman mencapai pekan ke 5 ( sekitar 30-40 hst ). Masa ini adalah peralihan dari fase vegetatif ke generatif. Dalam kondisi ini tanaman sedang membutuhkan nutrisi yang tinggi. Hal ini ditandai dengan keluarnya daun bendera atau padi bunting. Artinya malai padi akan segera keluar. Pada umur tersebut adalah saat yang tepat pemupukan tahap ke 3 diberikan. Dengan demikian, tanaman padi akan menghasilkan malai yang optimal.
Jadi bila kita ingin melakukan pemupukan tanaman padi, lihatlah 3 kondisi tersebut di atas. Saat itulah kondisi tanaman padi akan maksimal menyerap unsur hara yang kita berikan dan hasilnya dapat memuaskan. Pemupukan tanaman padi disesuaikan dengan kondisi cuaca/iklim, struktur tanah, waktu, tempat, varietas dan faktor lainnya akan sangat menentukan.
Teknik pemupukan tanaman padi sangat relatif, tidak ada ukuran pasti dosis dan waktu yang ditentukan, karena banyak faktor yang harus diperhatikan. Struktur tanah dan kondisi unsur hara yang berbeda-beda di empat satu dengan tempat lainnya, tentu memerlukan teknik dan cara yang berbeda-beda dalam melakukan pemupukan.
Dalam teknik pemupukan padi diperlukan ketelitian dan kejelian, karena dosis yang pas hanya bisa diketahui dengan terus melakukan uji coba. Penting kita ketahui perkembangan pertumbuhan tanaman padi pada setiapmusim tanam. Jika diraskan belum maksimal perlu dicoba kembali atau dirubah/tambah ukuran, jenis pupuk yang dirasakan belum pas, misalnya KCL, urea atau yang lainnya.

Mengacu pada teori dasar yang disampaikan pemerintah jika kita menggunakan NPK (misal PONSKA) dosis anjurannya adalah 100 kg urea dan 300 kg NPK/ha
Sementara untuk perbandingan ukuran masing-masing jenis pupuk/ha adalah sbb :

Teori 1:
- Pupuk Nitrogen (urea) : 200 - 250 kg
- Phospor (SP36) : 100 - 150 kg
- Kalium (KCL) : 75 - 100 kg
Selanjutnya waktu pemberian pupuknya juga sangat bervariasi dan perlun perhitungan yang pas karena bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebagai gambaran apa bila mengacu pada rekomendasi di atas, maka lakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Lakukan penyebaran pupuk SP36 ke lahan sawah sesuai dengan dosis yang dianjurkan satu hari sebelum penanaman bibit
2. Setelah umur 7 hari setelah tanam, laukan penyebaran pupuk urea kira-kira 30% (70 kg) dan KCL 50% (kira-kira 40 Kg)
3. Setelah umur 20 hari lakukan penyebaran pupuk urea sebanyak 40%
4. Setelah umur 30 hari lakukan penyebaran p[upuk urea sebanyak 40% dan KCL 50%


Teori 2:
Jika kita menggunakan pupuk seperti di atas (Urea, SP36, KCL) bisa kita lakukan cara tanaman sbb:
1. Sebarkan pupuk SP36 hingga 100% 1 hari sebelum tanam
2. Setelah umur 7 hari sebarkan pupuk urea 30% dan KCL 50%
3. Setelah proses ini dilakukan, maka dilakukan pengecekan dengan menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) setiap 1 minggu satu kali. Yang perlu diperhatikan adalah, apakah kita perlu menambahkan urea atau tidak. Jika diperlukan penambahan urea, maka lakukan penambahan urea kira-kira 10% saja. Lakukan pengecekan secara berkala sampai dengan tanaman padi berumur 40 hari.
4. Setelah umur 30 hari berikan lagi KCL sebanyak 50%
Ruslia Atamaja
Sumber : Puslibang Tanaman Pangan
Read More

TANAM PADI CIHERANG 11 TON/HA

09.39 0
Gambar terkait


Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )
Kalau kita lihat deskripsi padi ciherang maka akan kita dapatkan potensi hasil tertinggi adalah 8,5 ton/ha. Hasil ini biasanya didapatkan dari berbagai demplot yang dilakukan oleh para peneliti.
“bila di tingkat petani didapatkan hasil 80 % dari potensi hasil tertinggi saja itu sudah bagus,,,” begitu komentar salah satu peneliti di BPTP Banten.Saya pun berkomentar dalam hati karena tidak ingin berdebat: “betul, tapi siapa dulu petaninya,,,”
Bila para petani yang memakai pupuk kompos sekedarnya, jerami pun masuk ke sawah akibat dibakar, begitu mengandalkan pupuk kimia dan pestisida kimia, maka wajar saja dapat hasil 80 % dari potensi tertinggi hasil sudah bagus. Itu artinya dapat 80 % dari 8,5 ton/ha yaitu sekitar 6,8 ton/ha.
AKAN TETAPI, bila ada petani yamg memasukakan semua jerami ke sawah kembali, memakai pupuk kompos/kandang/dll, memainkan peran mikroorganisme, memberikan MOL/pupuk hayati secara berkala, memasukkan pupuk secara berimbang, menggunakan pesnab untuk menjaga agroekosistem sehinga sawah sehat, maka mendapatkan hasil di atas potensi hasil adalah WAJAR.
Dengan perlakukan di atas maka dengan mendapatkan hasil 10-11 ton/ha untuk varietas ciheranga adalah WAJAR.
Makanya, salah satu teman kita yaitu Pak Rijal -dan mungkin juga beberapa petani kita yang lain- bisa mendapatkan hasil panen padi ciherang dengan angka ril -bukan ubinan- yaitu 11 ton/Ha.
Berikut ini adalah cara budidaya yang dilakukan oleh Pak Rijal – maaf Pak Rijal, ada beberapa bagian yang saya tambahkan-
BENIH :
Untuk mendapatkan benih, ada perlakuan yang dilakukan oleh Pak Rijal yaitu melakukan seleksi sendiri.
Bagaimana caranya?

Karena hasil MT1 bagus, maka tanaman padi yang berada di barisan pinggir legowo -kiri dan kanan- diambil. Kebutuhannya sekitar 6 karung, itupun masih dengan tangkainya. Kemudian diilas dan dijemur sampai benar-benar kering dan ditapeni. Lalu disimpan untuk benih MT3 (menurut pengamatan kami padi yang berada di dekat legowo berbulir 170-200 dan lebih bernas sedangkan yang ditengah 130-180 per malai).

Setahu saya, Pak Rijal lebih sering memakai sistem tanam jajar legowo 5:1 tanpa sisipan di MT-1 dan MT-2. Untuk di MT-3, Pak Rijal memakai sisipan.
Mengapa? sebab dengan tanpa sisipan di MT-1 dan MT-2 akan mengurangi kelembapan. Seperti kita ketahui bersama, kelembaban merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hama dan penyakit mudah berkembang biak.
PERLAKUAN BENIH :

Karena ingin menggunakan benih kembali maka benih-benih yang disimpan tsb diambil. Kemudian
  1. Dijemur 1 jam dan disortir dengan cara direndam dalam air dengan perlakuan telur bebek dan dibuang yang mengapung (* telur bebek dimasukkan kedalam air dan diberi garam grosok sampai mengapung)
  2. Dicuci sampai bersih (tidak asin lagi)
  3. Direndam dengan POC dan Silika sesuai dosis selama 24-36 jam (saya memakai MA-11dan Biomax), menurut pengalaman, hal itu membuat perakaran lebih banyak di umur 15 hss dan tidak mudah putus, batang lebih kokoh/tidak mudah rusak ketika dicabut.
  4. Diperam selama 1 hari dan disebar ke lahan persemaian seluas 400 m2/25 Kg (benih sudah pecah mata)

PEMBUATAN PERSEMAIAN (1 hari sebelum perlakuan benih)

  1. Lahan 400 m2/Ha dan disemprot MO/pupuk hayati/MOL sebelum dibajak.
  2. Diratakan dan dibedeng arah timur barat tiap 1,5 m.
  3. Ditaburkan petroganik 80 Kg, biarkan selama 2-3 hari baru disebar benih.

PEMELIHARAAN BIBIT :

  1. umur 5 hss digenangi dan dipupuk phonska 8 Kg
  2. umur 12 hss disemprot dengan urine yg difermentasi dengan daun nimba, gadung dan tembakau.
  3. umur 15 hss dicabut dan pindah tanamkan maksimal sampai keesokan harinya.

PENGOLAHAN TANAH :

  1. Sebelum dibajak disemprot dengan MO (oplosan EM4 dan MA11 masing-masing 5 liter/Ha)
  2. Pembajakan 1 dilakukan bersama dengan pembuatan persemaian
  3. Pembajakan 2 saat bibit berumur 10 hss
  4. Perataan tanah/penggaruan dilakukan saat bibit umur 11 hss
  5. dipupuk petroganik/kompos 18 zak (720 Kg/Ha)
  6. lahan ditanami 5 hari setelah penggaruan (ada waktu untuk pengambilan keong yang menjadi hama utama bibit muda)

PERTANAMAN/PENGELOLAAN / Ha :

1.Tanam jajar legowo 5:1 dengan sisipan 25x25cm
2.Pengairan macak-macak sampai 10 hst
3.umur 10 hst disemprot urine+MO
4.Lahan dibiarkan mengering sampai retak
5.umur 13 hst digenangi dan dipupuk 150 Kg phonska + 4 zak ( 160 Kg) petroganik/kompos
6.umur 14 hst penggasrokan ke 1
7.Pengairan berselang 2x seminggu
8.umur 20 hst disemprot urine yg difermentasi dengan jus taoge
9.umur 23 hst penggasrokan ke 2
10.umur 24 hst dipupuk 150 Kg phonska + 75 Kg urea + 4 zak petroganik/kompos
11.umur 30 hst disemprot urine yg difermentasi dengan jus taoge
12.umur 35 hst dipupuk urea 75 Kg + 4 zak petroganik/kompos
13.mulai umur 40 hst lahan diari terus (dijaga tetap berair)
14.umur 40 hst disemprot urine fermentasi + mol buah (pisang)
15.umur 48 hst disemprot urine fermentasi + mol buah (pisang)
16.umur 56 hst disemprot urine yg difermentasi dengan daun nimba, gadung dan tembakau + mol buah (pisang)
17.umur 62 hst (saat hampir berbunga) disemprot pestisida sistemik + fungisida gol. azol
18.umur 75 hst (selesai penyerbukan/mulai merunduk) disemprot mol buah (pisang)
19.umur 85 hst disemprot MO + mol buah (pisang), walaupun belum diteliti kami bermaksud mengurangi dampak negatif dari pestisida dan fungisida yang diberikan.
20. umur 90 hst lahan dikeringkan

catatan :

  1. waktu tanam dikondisikan pada tanggal muda sistem penanggalan hijriyah/bulan, maksudnya agar saat mrapu/berbunga tidak bersamaan dengan penerbangan ngengat yg banyak, pengalaman kami saat bulan terlihat terang lebih banyak ngengat yg menyebabkan beluk/sundep.
  2. hasil akhir pemakaian kompos ataupun petroganik tidak berbeda signifikan
  3. saat bunting sangat rawan sehingga pemakaian pestisida sistemik dan fungisida kadang diperlukan (kami belum full nabati)
Read More

Post Top Ad

Your Ad Spot